Monday, July 22, 2019

Fenomena PANJAT SOSIAL di Masyarakat


Pastilah anda pernah menyadari bahwa dalam kehidupan ini selalu ada orang yang derajatnya lebih tinggi ataupun lebih rendah di masyarakat. Di masyarakat tentu akan selalu ada sesuatu yang dihargai dan dianggap lebih, hal tersebut merupakan salah satu penyebab mengapa adanya ketimpangan di Masyarakat sehingga memicu keinginan untuk melakukan sesuatu agar status sosial seseorang bisa naik dalam masyarakat. Generasi muda kita pada saat ini merupakan generasi yang selalu aktif di sosial media. Seperti yang kita tahu, sosial media merupakan suatu media bagi sebagian besar orang untuk membagikan pengalaman dan kesuksesannya. Hal tersebut tentu bisa memicu rasa rendah diri ketika melihat kehidupan orang lain yang tampaknya lebih sukses dan bahagia dibandingkan dengan kehidupan kita namun nyatanya belum tentu demikian.
Generasi yang biasa kita sebut dengan generasi millennial juga merupakan generasi yang kompetitif, mengingat selalu adanya rasa tidak ingin kalah dalam kehidupan mereka. Sudah sewajarnya terjadi hal tersebut karena pada diri setiap manusia selalu ada hasrat untuk menjadi lebih baik, baik lebih baik daripada hari kemarin maupun lebih baik daripada sesamannya. Seperti pepatah ‘’homo homini lupus’’ yang berarti manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Manusia akan berkompetisi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Sulit untuk membantah pepatah ini karena manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial dan ekonomi dimana meski kita tidak dapat hidup dengan orang lain, kita juga selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kita termasuk keinginan akan status sosial yang lebih tinggi.
Fenomena ‘’PANJAT SOSIAL’’ atau ‘’usaha yang dilakukan untuk menaiki strata sosial’’ di masyarakat merupakan sesuatu yang sudah ada sejak manusia itu ada. Dimana pada zaman dahulu manusia berkompetisi untuk menjadi yang paling kuat dan berkuasa agar bisa memperoleh kedudukan yang tinggi, yang biasa kita sebut dengan primus interpares. Fenomena ‘’PANJAT SOSIAL’’ juga akan terus ada selama manusia itu masih ada. Jika kita melihat pada zaman sekarang ini, tahun 2019, para remaja berlomba-lomba melakukan panjat sosial dengan cara memperlihatkan kesenangan hidup mereka yang biasanya berupa gaya hidup di sosial media. Sebenarnya hal tersebut bukan menjadi satu-satunya cara untuk menaiki tangga sosial. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan agar kita bisa menaiki tanggal sosial. Seperti yang kita tahu dasar dasar dalam menentukan status seseorang kita bisa melihat dari berbagai aspek seperti ukuran kekayaan, kekuasaan, kehormatan dan ilmu pengetahuan. Namun terlalu banyak orang yang hanya mengandalkan satu aspek saja dari banyak hal tersebut.
Kita harus menyikapi fenomena panjat sosial ini dengan tepat. Kita harus jeli karena banyak orang yang menghalalkan segala cara agar ia bisa menempati posisi yang lebih tinggi dalam pergaulan. Banyak orang yang rela berbohong agar diri terlihat kaya di mata teman-temannya dan sudah tidak sepantasnya kita mengagung-agungkan orang yang berpura-pura kaya agar bisa disegani di masyarakat. Sehingga di era digital saat ini, kita dituntut untuk jeli dalam menilai. Meski begitu, bukan berarti stratifikasi sosial, penggolongan penduduk secara vertical harus dihapuskan. Saya sangat setuju dengan adanya stratifikasi sosial di masyarakat sebagai penghargaan terhadap individu yang berusaha lebih dan juga untuk menumbuhkan semangat dan daya juang di masyarakat. Namun yang saya tidak setuju adalah saat banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk menaiki tangga sosial dalam pergaulan. Banyak orang yang pura-pura kaya agar ia disegani. Banyak orang melakukan trik jahat untuk menaiki suatu jabatan tertentu di perusahaan dan itu merupakan tindakan tidak terpuji. Mugkin hal tersebut terjadi karena kurang jelinya masyarakat dalam membedakan mana orang yang jujur dan tidak. Hal ini yang saya tidak setuju. Panjat sosial haruslah dilakukan dengan baik dan jujur sehingga kita bisa melihat secara benar mana orang yang patut diberikan penghargaan atau tidak.
Meskipun saya setuju dengan adanya stratifikasi sosial di masyarakat, saya tidak setuju dengan orang yang telalu mengagungkan status yang diwariskan, yang biasa disebut dengan ascribed status. Seorang remaja yang sangat berbangga diri karena terlahir dari keluarga yang kaya, itu merupakan sesuatu yang tidak baik karena bisa membuat orang yang tidak terlahir dari keluarga kaya mengalami putus asa. Akan lebih baik kita berbangga diri terhadap harta yang kita hasilkan sendiri setelah kita bekerja daripada kita membanggakan sesuatu yang bukan merupakan usaha kita melainkan usaha orang tua kita, berterimakasihlah kepada mereka namun janganlah terlalu berbangga diri. Akan lebih baik kita berbangga diri dengan prestasi yang telah kita raih daripada selalu memamerkan barang branded di sosial media jika hal tersebut bukanlah hasil jerih payah kita. Kita harus lebih berfokus terhadap status yang diusahakan, yang biasa disebut dengan achieved status karena dengan begitu kita menghargai usaha dan jerih payah orang lain.


1 comment:

  1. This article is excellent. It gives the readers interesting informations about "Panjat Sosial". I recommend you guys to read this article.

    ReplyDelete