Pastilah anda pernah menyadari bahwa dalam kehidupan ini selalu ada orang yang derajatnya lebih tinggi ataupun
lebih rendah di masyarakat. Di masyarakat tentu akan selalu ada sesuatu yang
dihargai dan dianggap lebih, hal tersebut merupakan salah satu penyebab mengapa
adanya ketimpangan di Masyarakat sehingga memicu keinginan untuk melakukan
sesuatu agar status sosial seseorang bisa naik dalam masyarakat. Generasi muda
kita pada saat ini merupakan generasi yang selalu aktif di sosial media. Seperti
yang kita tahu, sosial media merupakan suatu media bagi sebagian besar orang
untuk membagikan pengalaman dan kesuksesannya. Hal tersebut tentu bisa memicu
rasa rendah diri ketika melihat kehidupan orang lain yang tampaknya lebih
sukses dan bahagia dibandingkan dengan kehidupan kita namun nyatanya belum
tentu demikian.
Generasi yang
biasa kita sebut dengan generasi millennial
juga merupakan generasi yang kompetitif, mengingat selalu adanya rasa tidak
ingin kalah dalam kehidupan mereka. Sudah sewajarnya terjadi hal tersebut
karena pada diri setiap manusia selalu ada hasrat untuk menjadi lebih baik,
baik lebih baik daripada hari kemarin maupun lebih baik daripada sesamannya. Seperti
pepatah ‘’homo homini lupus’’ yang
berarti manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Manusia akan berkompetisi
untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Sulit untuk membantah pepatah ini karena
manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial dan ekonomi dimana meski kita tidak
dapat hidup dengan orang lain, kita juga selalu berusaha untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan kita termasuk keinginan akan status sosial yang lebih
tinggi.
Fenomena ‘’PANJAT
SOSIAL’’ atau ‘’usaha yang dilakukan untuk menaiki strata sosial’’ di
masyarakat merupakan sesuatu yang sudah ada sejak manusia itu ada. Dimana pada
zaman dahulu manusia berkompetisi untuk menjadi yang paling kuat dan berkuasa
agar bisa memperoleh kedudukan yang tinggi, yang biasa kita sebut dengan primus interpares. Fenomena ‘’PANJAT
SOSIAL’’ juga akan terus ada selama manusia itu masih ada. Jika kita melihat
pada zaman sekarang ini, tahun 2019, para remaja berlomba-lomba melakukan
panjat sosial dengan cara memperlihatkan kesenangan hidup mereka yang biasanya
berupa gaya hidup di sosial media. Sebenarnya hal tersebut bukan menjadi
satu-satunya cara untuk menaiki tangga sosial. Ada banyak cara yang bisa kita
lakukan agar kita bisa menaiki tanggal sosial. Seperti yang kita tahu dasar
dasar dalam menentukan status seseorang kita bisa melihat dari berbagai aspek
seperti ukuran kekayaan, kekuasaan, kehormatan dan ilmu pengetahuan. Namun terlalu
banyak orang yang hanya mengandalkan satu aspek saja dari banyak hal tersebut.
Kita harus
menyikapi fenomena panjat sosial ini dengan tepat. Kita harus jeli karena
banyak orang yang menghalalkan segala cara agar ia bisa menempati posisi yang
lebih tinggi dalam pergaulan. Banyak orang yang rela berbohong agar diri
terlihat kaya di mata teman-temannya dan sudah tidak sepantasnya kita
mengagung-agungkan orang yang berpura-pura kaya agar bisa disegani di
masyarakat. Sehingga di era digital saat ini, kita dituntut untuk jeli dalam
menilai. Meski begitu, bukan berarti stratifikasi sosial, penggolongan penduduk
secara vertical harus dihapuskan. Saya sangat setuju dengan adanya stratifikasi
sosial di masyarakat sebagai penghargaan terhadap individu yang berusaha lebih
dan juga untuk menumbuhkan semangat dan daya juang di masyarakat. Namun yang
saya tidak setuju adalah saat banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk
menaiki tangga sosial dalam pergaulan. Banyak orang yang pura-pura kaya agar ia
disegani. Banyak orang melakukan trik jahat untuk menaiki suatu jabatan
tertentu di perusahaan dan itu merupakan tindakan tidak terpuji. Mugkin hal
tersebut terjadi karena kurang jelinya masyarakat dalam membedakan mana orang
yang jujur dan tidak. Hal ini yang saya tidak setuju. Panjat sosial haruslah dilakukan
dengan baik dan jujur sehingga kita bisa melihat secara benar mana orang yang
patut diberikan penghargaan atau tidak.
Meskipun saya
setuju dengan adanya stratifikasi sosial di masyarakat, saya tidak setuju
dengan orang yang telalu mengagungkan status yang diwariskan, yang biasa
disebut dengan ascribed status. Seorang
remaja yang sangat berbangga diri karena terlahir dari keluarga yang kaya, itu
merupakan sesuatu yang tidak baik karena bisa membuat orang yang tidak terlahir
dari keluarga kaya mengalami putus asa. Akan lebih baik kita berbangga diri
terhadap harta yang kita hasilkan sendiri setelah kita bekerja daripada kita
membanggakan sesuatu yang bukan merupakan usaha kita melainkan usaha orang tua
kita, berterimakasihlah kepada mereka namun janganlah terlalu berbangga diri. Akan
lebih baik kita berbangga diri dengan prestasi yang telah kita raih daripada
selalu memamerkan barang branded di
sosial media jika hal tersebut bukanlah hasil jerih payah kita. Kita harus
lebih berfokus terhadap status yang diusahakan, yang biasa disebut dengan achieved status karena dengan begitu
kita menghargai usaha dan jerih payah orang lain.
This article is excellent. It gives the readers interesting informations about "Panjat Sosial". I recommend you guys to read this article.
ReplyDelete